Kinerja Manajemen Persib Yang Memalukan
Sebelum saya lebih jauh membahas mengenai kejanggalanyang terjadi di internal klub Persib, mari kita flasback keberadaan klub Persib yang mulai di kelola oleh Pemerintah setempat dengan menggunakan dana APBD sampai kepada klub ini menjadi sebuah klub yang bisa dibilang ‘profesional’. Namun banyak orang berpendapat bahwa tim persib ini belum bisa dikatakan profesional secara menyeluruh, memang persib sudah profesional secara finansial tetapi tidak kepada infrastuktur yang ada. kenapa? Karena persib sendiri masih banyak kekurangan terutama fasilitas bagi pemain, salah satu contohnya lapangan untuk latihan. Padahal jika manajemen berniat untuk mengembangkan klub persib menjadi satu-satunya klub yang benar-benar profesional manajemen bisa bekerjasama dengan bobotoh ataupun pihak ketiga, karena kesetiaan bobotoh sebagai suporter Persib tidak perlu diragukan lagi. Tapi susah juga kalau yang berniat hanya segelintir orang. Lanjut ke pembahasan utama.. Siapa sih yang gak kenal Persib, pasti semua orang tahu dan tidak bisa dipungkiri lagi kalau Persib sekarang sudah menjelma menjadi sebuah klub yang sangat besar tanpa menghilangkan jejak sejarah yang sangat panjang. Disamping itu prestasi Persib pun bisa dibilang sangat baik pada masanya tapi tidak untuk tahun 2017, dimana tahun ini merupakan tahun yang paling buruk sepanjang sejarah dalam mengikuti kompetisi resmi di liga Indonesia. Hal ini tentu sangat mengecewakan berbagai kalangan terutama bagi suporter setia Persib, Bobotoh. Mengapa demikian? Ya bagaimana tidak kecewa melihat performa persib tahun ini, dimana diawal musim manajemen sangat serius mempersiapkan tim untuk mengikuti liga 1 agar dapat bersaing dengan tim-tim lain demi mempertahankan gelar juara, keseriusan manajemen pun diluar dugaan dimulai dengan mendatangkannya pemain-pemain bagus sampai saya sendiri pun sempat terkejut ketika mantan pemain Chelsea dan West Ham United bisa mendarat di kota Kembang. Waktupun terus berjalan, pertandingan pun terus dilaksanakan, bongkar pasang pemain agar dapat menampilkan permainan cantik dari kaki ke kaki ala ciri khas maung bandung pun terus dicoba tapi hasilnya memang jauh diluar harapan dan semua itu tidak bisa merubah performa persib lebih bagusmalah sebaliknya klub persib malah terseok-seok dipapan bawah klasemen akhir liga 1, dan ini tentu sangat mencoreng nama baik persib sebagai tim besar.
Banyak kejadian yang diluar masuk akal, dimana selama satu musim ini persib sangat disorot oleh berbagai media maupun klub lain, dimulai dari bongkar pasang pelatih selama 4 kali (2x asisten pelatih), bahkan coach PSM Makassar yaitu Robet Rena Albert pun sempat mempertanyakan siapa pelatih persib sebenarnya?. Hal ini tentu sangat memalukan apalagi sebagai tim besar tapi pelatih kepala tidak jelas. Pergantian pelatih persib ditengah kompetisi sedang berjalan memang bukan hal yang baru terjadi di persib, sebelum-sebelumnya persib pun pernah melakukan hal yang sama. Alasan utama persib mengganti pelatih ditengah kompetisi sedang berjalan ya tidak lain karena pelatih tersebut mengundurkan diri setelah hasil yang diraih oleh persib selama pertandingan tidak sesuai harapan. Memang sulit jika ingin menjadi pelatih persib karena disamping harus mempunyai mental yang sangat kuat, kekeluargaan di dalam tim pun harus tetap di jaga agar sesama pemain pun merasa nyaman.
Keburukan manajemen memang tidak perlu ditutup tutupi lagi, di zaman now memang pemberitaan di media cetak maupun elektronik bisa dengan cepat menyebar ke semua kalangan bahkan orang-orang pun sudah mengetahui baik buruknya orang-orang sulanjana. Salah satu berita yang menurut saya menarik adalah setelah selesainya pagelaran kompetisi liga 1 tahun 2017 ini, dimana banyak sekali media sosial yang memberitakan hubungan tidak baik manajer Persib dengan mantan pemain persib asal Inggris (CC). Jika dilihat dari berbagai berita kedua orang ini intinya saling menyalahkan, mana yang benar atau tidak ya saya sendiri pun tidak tahu, karena yang tahu kejadian sebenarnya hanya Allah, dan mereka yang mengalaminya. Tapi sebenarnya kejadian ini bukan untuk pertama kalinya menimpa mantan pemain persib, sebelum ada beberapa pemain persib yang memang diberitkan kurang harmonis dengan pihak manajer.
Keberadaan manajer ini memang ada positif dan negatifnya untuk klub Persib sendiri. Sisi positifnya manajer ini memang sangat dekat dengan pemain bahkan untuk merayu pemain ke Persib pun dia bisa, asalkan pemain tersebut masuk kedalam kriterianya dia. Tapi jika melihat sisi negatifnya beliau terkadang suka ikut campur atau bisa dibilang intervensi terhadap masalah teknis klub di lapangan. Selain sang manajer terdapat juga komisaris utama PT PBB yang turut hadir untuk ikut duduk di bench pemain dan lebih parahnya lagi komisaris tersebut rela merangkap jadi kitman agar mendapat jatah tempat duduk di banch pemain, padahal ada tempat yang jauh lebih terhormat (tribun VVIP) bagi beliau agar bisa menikmati pertandingan. Biarkan urusan hasil dan permainan serahkan kepada tim pelatih dan jajarannya. Terkadang saya sendiri suka berpikir dan bertanya kenapa seorang manajer bisa mengatur urusan teknis di lapangan tapi hasilnya malah buruk, tujuannya apa? Itulah pertanyaan yang terlintas dibenak saya ketika mendengar atau melihat tim persib saat ini. Tapi menurut saya memang lebih baik urusan teknis ini diserahkan saja seluruhnya kepada tim pelatih toh kalaupun permainan persib bagus sponsor pun tidak akan kabur. Intinya jangan mengedepankan bati tetapi prestasi nol, alangkah lebih baiknya bisnis dan prestasi itu bisa berjalan beriringan.
Tulisan ini kiriman dari member bobotoh hardline "JA"
Kinerja Manajemen Persib Yang Memalukan
Reviewed by admin
on
November 26, 2017
Rating:
Reviewed by admin
on
November 26, 2017
Rating:


No comments